Saya yakin setiap orang tua ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Tidak ada orang tua yang berharap anaknya gagal, menderita, atau kesusahan dalam hidupnya. Namun masalahnya, seringkali terdapat perbedaan dalam hal apa yang terbaik untuk anaknya bagi setiap orang tua tersebut.
Contohnya orang tua saya. Keduanya merupakan pegawai pemerintah. Ayah saya seorang purnawirawan TNI AD dan ibu saya seorang pensiunan PNS. Nilai-nilai yang saya dapatkan dari orang tua saya sedari kecil adalah, bahwa pendidikan itu sangatlah penting. Karena pendidikanlah yang akan menjadi gerbang kesuksesan kami di masa depan. Berangkat dari nilai ini, orang tua saya sangat mendukung dalam hal pendidikan. Saya dan adik-adik saya difasilitasi buku-buku, guru les, berbagai kursus, dan didaftarkan di sekolah-sekolah terbaik yang mampu kami jangkau.
Saya ingat beberapa kali kami sekeluarga telat bayar listrik di rumah . Waktu itu listrik masih pascabayar, jadi tidak langsung mati saat belum bayar. Tetapi kalau untuk bayaran sekolah, atau kursus, pasti ada. Biarpun kami hidup sederhana, tetapi saya tidak pernah kekurangan fasilitas penunjang belajar.
Dengan segala dukungan itu, saya bersyukur bisa memanfaatkannya dengan baik. Saya bisa masuk ke sekolah-sekolah negeri favorit. Bahkan bisa lulus SPMB dan lulus SIMAK UI.
Namun hal yang cukup mengubah cara pandang saya akan pendidikan terjadi ketika saya SMA. Jujur saja, selama SD sampai SMP saya tidak pernah mencontek, saya selalu bangga bisa mengerjakan semua sendiri, sekalipun mungkin nilainya tidak sempurna. Lalu saat SMA, saya masuk ke SMA favorit. Di sekolah ini, tekanan belajar begitu besar karena kami dinilai sebagai murid-murid jenius yang tidak perlu diajari lagi. Rutinitas pelajaran yang saya ingat adalah ujian, ujian, dan remedial. Hampir tidak ada pelajaran yang berkesan. Nilai-nilai saya mulai jatuh dan kepercayaan diri saya mulai hilang. Saya mulai terseok-seok mengikuti pelajaran di sekolah walaupun pelajaran-pelajaran tersebut dulunya saya sangat sukai. Proses belajar yang dulunya saya sangat sukai berubah menjadi pengalaman mengerikan di mana saya merasa mempermalukan diri sendiri jika saya gagal atau tidak mengerti pelajaran. Akhirnya, saya yang tidak pernah mencontek seumur hidup saya, perlahan-lahan tergerus prinsipnya karena takut gagal, takut malu, dan takut mengecewakan,
Orangtua saya mengetahui hal ini namun solusi dari mereka adalah dengan menambah bimbel, les, dan kursus bagi saya. Sampai akhirnya saya mengatakan kalau saya ingin masuk kelas IPS saat penjurusan karena saya memang ingin masuk jurusan IPS saat kuliah nanti. Sayangnya, orangtua saya tidak mengizinkan dengan alasan jurusan IPA bisa masuk ke mana saja walaupun sebenarnya sejak masih SD, cita-cita saya adalah di bidang IPS dan itu konsisten sampai saya SMA. Ketika akhrinya saya masuk IPA, bisa dipastikan, saya hampir selalu berada di urutan terakhir kelas. Nilai saya sering di bawah rata-rata kelas, dan saya mulai sering bolos dan kabur dari jam pelajaran karena menghindari guru.
Saat akhirnya saya lulus SMA dengan nilai sangat pas-pasan, saya yang tetap ingin masuk kuliah jurusan IPS akhirnya belajar sendiri materi-materi IPS. Saya mendownload buku-buku dari situs Depdiknas, saya rancang sendiri rencana belajar saya. Dan saya konsisten mengerjakannya bahkan tanpa bimbel atau guru les. Hasilnya, dalam waktu tiga bulan, semua materi IPS SMA waktu itu bisa saya kuasai dan itu yang membuat saya lulus SIMAK UI jurusan Ilmu Hukum.
Dalam hati saya sampai tertawa, ya ampun, materi 3 tahun SMA bisa saya pelajari sendiri bahkan gratis selama 3 bulan saja. Seandainya saat itu saya berani mempertahankan pendapat saya tentang pilihan jurusan, mungkin saya tidak akan mengalami masa-masa memalukan di SMA.
Saya tidak menyalahkan orangtua saya karena saya tahu, dalam keputusan yang mereka ambil, ada sejarah panjang juga mengenai nilai-nilai yang tertanam pada mereka sebelumnya. Tetapi, dari sana saya mulai memikirkan lagi tentang arti pendidikan terbaik untuk anak. Apakah pendidikan terbaik berarti sekedar fasilitas terbaik? Sekolah terbaik? Guru les terbaik? Buku-buku terbaik?
Hingga akhirnya saya bertemu suami saya (waktu itu belum jadi suami). Beberapa kali kami berdiskusi mengenai hal-hal mendasar dalam hidup, termasuk arti pendidikan. Suami saya berprinsip bahwa belajar tidak harus di sekolah. Belajar bisa di mana saja, dari siapa saja. Suami saya juga yang sangat tidak setuju dengan pendidikan sebagai komoditas bisnis, di mana sekolah-sekolah bagus pasti selangit biayanya padahal biaya tersebut tidak berpengaruh langsung pada kualitas pendidikan. Waktu itu saya sangat kaget dan tidak setuju. Bagaimana mungkin ada pemikiran segila ini? Bahwa anak tidak harus sekolah? Apa kata orang?
Setelah menikah, diskusi semacam ini menjadi semakin intens. Setelah mendengar gagasan-gagasannya tentang pendidikan, saya pun mulai mencari tahu tentang pendidikan alternatif dan mulai mengenal pemikiran-pemikiran lain tentang pendidikan.
Hingga akhirnya, bertemulah saya dengan istilah homeschooling. Meskipun bukan pertama kali istilah ini saya dengar, namun secara konsep, saya sama sekali awam dengan istilah ini. Makin banyak saya mencari tahu, gagasan ini menjadi semakin menarik di mata saya.
Homeschooling pada dasarnya adalah metode pendidikan di mana otonomi pendidikan dipegang oleh keluarga dan bukan oleh lembaga seperti sekolah. Saat pertama belajar mengenai ini, saya terheran-heran. Whaaat? Jadi kita punya pilihan? Hehehe...😛
Dari kecil kita disuguhi satu sistem pendidikan yang seragam. dari TK sampai SMA, kurikulum di seluruh Indonesia sama. Diberikan kepada semua anak, tidak peduli anak dengan karakter bagaimana, atau kondisi lingkungan seperti apa. Karena itu satu-satunya metode pendidikan yang kita kenal, kita jadi tidak tahu bahwa ada loh pilihan lain dalam sistem pendidikan yang bisa kita ambil ini.
Kurikulum yang sama membuat semua anak wajib mengikuti serangkaian mata pelajaran dan metode ajar yang sama. Kita tidak punya pilihan mau ambil yang mana atau tidak mau ambil yang mana. Padahal kita tahu, sistem pendidikan Indonesia juga masih kalah jauh dibanding negara-negara lain. Tapi kita merasa tidak punya pilihan dan harus bahkan merasa wajib untuk ikut sekolah. Padahal, akses terhadap pendidikan itu adalah hak anak bangsa, bukan kewajiban. Yang namanya hak, boleh diambil boleh tidak kan 😏
Setelah menyadari bahwa kita sebenarnya punya pilihan, saya jadi merasa gagasan ini sangat menarik. Oh, jadi kita bisa ya memilih kurikulum sendiri, bahkan memilih sendiri metode ajar pada anak. Misalkan saya merasa kurikulum sekolah di Finlandia sangat menarik, berarti saya bisa mengadaptasi kurikulum tersebut kepada anak saya. Saya merasa punya sejuta pilihan dan hal itulah yang membuatnya menjadi menyenangkan: kita punya kendali terhadap apa yang bisa diterapkan kepada anak kita.
Ibarat makanan untuk perut, pendidikan seperti asupan untuk otak. Untuk makanan anak, kita bisa menentukan mana yang boleh, mana yang tidak boleh dimakan. Lalu kenapa untuk asupan otak anak kita tidak bisa melakukan hal yang sama?
Seringkali kita mendengar atau melihat kisah anak-anak di daerah pelosok yang tidak punya akses pendidikan, atau anak-anak yang putus sekolah karena tidak ada biaya. Lantas sekolahnya tidak bisa dilanjutkan dan mereka menjadi luntang lantung, menjadi pekerja kasar sejak kecil, atau menjadi anak-anak jalanan yang dianggap tidak jelas masa depannya. Seandainya semakin banyak orang yang tau, bahwa it's okay tidak sekolah, yang penting jangan berhenti belajar. Masalahnya, pandangan orang kebanyakan adalah jika tidak bersekolah berarti otomatis tidak belajar. Padahal, sekolah itu hanya salah satu opsi untuk proses belajar.
Dari dasar pemikiran inilah saya memutuskan untuk memilih homeschooling. Mengenai kurikulum apa yang dipilih, bagaimana penerapannya, hasil yang ingin dicapai, dll, tentunya akan menjadi pembahasan tersendiri. Tetapi gagasan bahwa kita punya hak untuk memilih, itu yang ingin saya sampaikan di tulisan ini.
Mohon maaf jika ada tulisan yang tidak berkenan 😇